Tuesday, March 22, 2016

Manajemen Layanan Sistem Informasi & Kerangka Kerja


I. Manajemen Layanan Sistem Informasi ?



Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:

  • Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari pertempuran. Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus diimplementasikan, dan manajer serta pekerja harus memonitor pelaksanaannya untuk memastikan rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan, disebut kebutuhan.
  • Pengambilan Keputusan, proses pemilihan di antara berbagai alternative disebut dengan proses pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih di antara beberapa tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari beberapa rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi pengendalian.


Menurut Francisco Proses Manajemen adalah suatu proses Penukaran terhadap nilai dan jasa



Manajemen layanan teknologi informasi (Information Technology Servide Management (ITSM)), yaitu metode pengelolaan sistem teknologi informasi yang terpusat pada perspektif konsumen layanan teknologi informasi terhadap bisnis perusahaan. Pada saat sekarang ini, banyak perusahaan yang menggunakan ITSM itu untuk menunjang usaha mereka agar lebih baik lagi. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang memanajemen layanan teknologi informasi itu sendiri.

Beberapa proses dari ITSM itu yaitu:

  • Bagaimana menjaga keseimbangan antara bisnis layanan teknologi informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan customer.
  • Melayani dengan TI yang berkualitas dan dengan harga yang sesuai dengan keefektifan TI yang diberikan.
  • Membina kerjasama yang baik antara pihak suplier dan customer dengan tidak saling mengecewakan dan dapat memberikan layanan yang terbaik. 
  • Membina dan melayani dengan tingkat kemampuan melayani sebaik- baiknya customer yang nantinya akan mempengaruhi terhadap kepuasan yang akan didapatkan customer tersebut.

Manajemen layanan teknologi informasi ini dibutuhkan hampir disemua pihak baik itu user individual, user manajemen, unit non TI ataupun manajemen paling atas. Dalam hal ini, user individual adalah pegawai yang harus dilayani oleh unit TI. Oleh karena itu perusahaan harus bisa menentukan siapa saja yang berhak mendapatkan pelayanan dari unit TI tersebut. Misalnya saja unit penjualan mendapatkan layanan payroll. Namun ia hanya terbatas untuk mengetahui besar payroll yang dibayarkan kepada dia saja, tanpa dia bisa mengetahui gaji ataupun fitur lain dari pegawai lain karena untuk yang itu hanya dikuasai oleh HRD. Untuk itu, keperluan TI dipilih-pilih sesua kebutuhannya saja. Beberapa layanan TI yang digunakan seperti penggunaan komputer,print-sharing,internet maupun software bisnis tertentu.


Di sini juga ada hal yang mempengaruhi tantangan dalam manajemen layanan teknologi informasi, yaitu:

  1. Menjaga jalannya layanan TI setiap saat.
  1. Mengoptimalkan biaya TI.
  1. Mengelola resiko dan kompleksitas TI.
  1. Mencapai kepatuhan hukum dan peraturan.
  1. Mengelola perubahan volume yang lebih tinggi. 
  1.  Menyelaraskan layanan TI dengan kebutuhan bisnis.



Di sini juga ada Teknologi Informasi Infrastruktur Library atau biasa disebut ITIL. Ini merupakan rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi TI. ITIL diterbitkan dalam suatu buku yang membahas suatu topik pengelolaan TI yang isinya memberikan deskripsi detail tentang beberapa praktek TI. ITIL dipublikasikan pertama kali yaitu 1989-1996.

 

 1. Service Strategy

Ini merupakan inti dari ITIL Service Life Cycle yang memberikan panduan kepada pengimplementasian ITSM . Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar konsep ITSM, acuan, serta proses-proses inti.

Proses di dalamnya yaitu:
- Service Portofolio Management.
- Financial Management.
- Demand Management.



2. Service Design

Agar layanan TI dapat memberikan manfaat pada bisnis, layanan TI harus terlebih dahulu didesain dengan tujuan bisnis dari pelanggannya. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk bisa secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI.

Proses di dalamnya yaitu:

- Service Catalog Management.
- Service Level Management.
- Supplier Management.
- Capacity Management.
- Availability Management.
- IT Service Countinuity Management.
- Information Security Management.



3. Service Transition


Menyediakan panduan kepada organisasi TI agar dapat mengembangkan kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI. Tahapan ini menggambarkan bagaimana sebuah kebutuhan didefinisikan dalam Service Strategy, lalu dibentuk dalam Service Design dan selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation

Proses di dalamnya yaitu:

  • Transation Planning and Support.
  • Change Management.
  • Service Assset and Configuration Management.
  • Release and Deployment Management.
  • Service Validation.
  • Evaluation. 
  • Knowledge Management.



4. Service Operational


Ini adalah tahapan life cycle yang mencakup semua kegiatan operasional layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat beberapa panduan-panduan untuk mengelola layanan TI secara efisien.

Proses di dalamnya:

  • Event Management.
  • Incident Management.
  • Problem Management.
  • Request Fulfillment.
  • Access Management.

5. Continual Service Improvement (CSI)




II. Kerangka Kerja Sistem Informasi


Kerangka kerja ini akan memberikan gambaran area-area utama pengetahuan sistem informasi bisnis yang dibutuhkan oleh praktisi bisnis. Sebagai seorang manajer atau seorang praktisi bisnis, tidak harus menyerap semua pengetahuan ini. Jadi yang perlu diteknkan disini adalah; apa yang perlu diketahui agar seorang manajer dapat membantu mengelola hardware, software, data dan sumber daya jaringan bisnis dapat digunakan demi keberhasilan strategis perusahaan.


Yang pertama Konsep-konsep dasar

Konsep dasar keprilakuan, teknis, bisnis, dan manajerial termasuk mengenai berbagai komponen dan pernanan sistem informasi. Contohnya meliputi konsep sistem informasi dasar berasal dari teori sistem umum, atau konsep keunggulan kompetitif yang digunakan untuk mengembangkan aplikasi bisnis teknologi informasi dalam keunggulan kompetitif.


Yang kedua, Teknologi Informasi

Konsep-konsep utama, pengembangan dan berbagai isu manajemen teknologi informasi, meliputi hardware, software, jaringan, manajemen sumber daya (data) dan teknologi berbasis internet.


Yang ketiga, Aplikasi Bisnis

Penggunaan utama dari sistem informasi untuk operasi, manajemen dan keunggulan kompetitif. Aplikasi teknologi informasi dlam bidang fungsional bisnis seperti pemasaran, produksi, dan akuntansi serta aplikasi perusahaan lintas fungsi seperti manajemen hubungan dengan pelanggan dan perencanaan sumber daya perusahaan (Enterprise resource planning-ERP). Aplikasi e-commerce yang kebanyakan digunakan perusahaan untuk membeli dan menjual berbagai produk di internet. Penggunaan sistem informasi dan teknologinya untuk mendukung pengambilan keputusan dalam bisnis.

Peran utama Sistem Informasi (aplikasi bisnis)

  1. Mendukung proses dan operasi bisnis, toko ritel menggunakan SI berbasis computer untuk menelusuri persediaan barang, mencatat pembelian barang, evluasi penjualan,dll.
  1. Mendukung pengambilan keputusan para pegawai dan manajernya, keputusan mengenai penambahan jumlah persediaan barang, jenis investasi barang yang dibutuhkan dll.
  1. Mendukung berbagai strategi untuk keperluan kompetitif, misalnya memberikan pelayanan yang mudah  pembelian secara online, dll.

Yang keempat, Proses Pengembangan

Bagaimana para praktisi bisnis dan pakar informasi merencankan, mengembangkan, dan mengimplementasikan sistem informasi untuk memenuhi peluang bisnis. Metodologi pengembangan siklus hidup pengembangan sistem dan pendekatan prototype untuk pengembangan aplikasi bisnis, juga memahami berbagai isu bisnis yang terdapat dalam pengembangan SI.

Yang kelima, Tantangan Manajemen

Tantangan untuk secara efektif dan etis mengelola teknologi informasi pada tingkat pemakai akhir, perusahaan dan global dalam bisnis. Tantangan keamanan dan berbagai isu manajemen keamanan dalam penggunaan teknologi informasi.

https://ikhs.files.wordpress.com/2010/09/gambar1.jpg



kerangka kerja sistem informasi (http://stillstudy.blogspot.com/)


Sumber referensi :

  1. Sistem Informasi Manajemen [https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_manajemen] 22 Maret 2016
  1. Pengantar Sistem Informasi (James A. O’Brien) [http://catalogs.mhhe.com/mhhe] 22 Maret 2016
  1. Manajemen Layanan Sistem Informasi [http://nindyasne.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-layanan-sistem-informasi.html] 22 Maret 2016
  1. Manajemen Layanan Teknologi Informasi [https://wawanzone.wordpress.com/2011/03/02/manajemen-layanan-teknologi-informasi/] 22 Maret 2016

Thursday, January 28, 2016

Agung Podomoro Group, The Conceptual Property Company

logo

Hai readers, kali ini saya ingin sedikit review hasil analisa saya tentang sebuah perusahaan untuk memenuhi tugas TOU alias Teknik Organisasi Umum #2.

Siapa yang tak mengenal Agung Podomoro Group, notabene perusahaan raksasa yang menggeluti bidang property sejak 1969 yang didirikan oleh Bpk. Anton Haliman (Alm). Pelopor bisnis real estate hingga sampai ke kancah internasional. Perusahaan yang mengedepankan kebutuhan konsumen serta memberikan solusi untuk hunian nyaman sesuai dengan kebutuhan di tiap regional masyarakat. Menarik sekali jika kita mengulik sedikit rahasia efektifitas kinerjanya, strategi bisnis yang ditekuni, serta  Dan apa sih rahasia dibalik pencapaiannya, efisiensi kinerja apa yang digunakan, analisis management, tata kelola perusahaannya apakah sudah sesuai dengan standar perusahaan lainnya akan kita bahas tuntas sampai ke akar permasalahannya. 

Sebenarnya efisiensi itu apa sih ?

Efisiensi merupakan syarat atau ukuran pelaksanaan kerja yang paling tepat sehingga Organisasi dan Managemen sebagai bantuan teknis dan praktis dalam pelaksanaan fungsi manajemen bisa berjalan lancar yaitu pemaksimalan manfaat sumber-sumber yang dimiliki. Sebagai perusahaan property yang mapan APLN tentu memiliki jurus efisiensi unggul untuk mempertahankan eksistensi nya hingga tembus ke pasar internasional.
Berikut syarat-syarat efisiensi perusahaan yang sudah dipenuhi oleh Agung Podomoro
Group :
 


1. Berhasil Guna (Efektif)
tentunya sebuah perusahaan dapat dikatakan efisien jika target tercapai serta tidak mengabaikan kualitas. 
APLN dengan metode "Fast Chum", yaitu melakukan akuisisi dengan membeli lahan yang cukup kemudian 
dikembangkan menjadi sebuah proyek dengan jangka waktu singkat, yaitu 3-5 tahun. Dengan pengerjaan yang cepat dan tepat, model yang fleksibel dengan skala besar dapat terus memanfaatkan secara optimal dari modal dan sumber daya secara terus menerus. Selain itu, dengan memanfaatkan jaringan dan nama baik APLN, tim pemasaran yang solid serta berpengalaman mampu menarik minat pembeli untuk mengumpulkan dana melalui penjualan, uang muka penjualan, dan cicilan bertahap.

2. Ekonomis
Dalam usaha pencapaian efektif maka biaya, tenaga kerja, material, peralatan, waktu, ruangan dan lain-lain telah digunakan dengan tepat sesuai dengan perencanaan sehingga tidak terjadi pemborosan, penyelewengan dan korupsi. APLN mencatat bahwa jumlah aset Perusahaan menjadi Rp19.679,9 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 29.5% dan posisi per akhir tahun 2012 sebesar Rp15.195,6 miliar. Kenaikan total aset ini didorong oleh kenaikan pada aset lancar sebesar 30,0% dan aset tidak lancar sebesar 29,2% dan posisi akhir tahun 2012kenaikan aset lancar sebesar 30% menjadi Rp 8.747,0 miliar pada akhir Desember 2013 dari Rp 6.727,1 miliar pada akhir tahun 2012. 



3. Pelaksanaan Kerja yang Dapat Dipertanggungjawabkan
Untuk membuktikan bahwa dalam pelaksanaan kerja benar-benar di buat se objektif mungkin, mencerminkan fakta sesusungguhnya, dengan membuat report-report sebagai bukti pengeluaran pengeluaran yang telah dilakukan. Oleh karena itu dilakukan penyerahan laporankeuangan secara berkala setiap triwulan kepada Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kemudian APLN mengadakan conference call dengan para analis, investor, dan pihak-pihak lainnya untuk membahas kinerja dan target serta prospek Perseroan ke depan, termasuk membahas perkembangan industri secara umum dengan sesi tanya jawab yang intensif.

4. Pembagian  Kerja yang Nyata
Untuk membuktikan bahwa dalam pelaksanaan kerja benar-benar di buat se objektif mungkin, mencerminkan fakta sesusungguhnya, dengan membuat report-report sebagai bukti pengeluaran pengeluaran yang telah dilakukan. Disini APLN menerapkan fungsi "Remunerasi", bertujuan untuk menarik, memotivasi dan mempertahankan individu dengan kualitas terbaik yang memiliki kompetensi yang diperlukan bagi kepemimpinan yang berhasil dan manajemen yang efektif.
Untuk mewujudkannya, Perseroan telah membentuk Komite Remunerasi guna memastikan bahwa kebijakan dan praktek remunerasi di seluruh perusahaan mencerminkan praktik kompensasi secara umum di industri properti Indonesia dan juga guna memastikan seluruh karyawan dihargai secara adil berdasarkan kinerja perusahaan serta kinerja individu. Perseroan juga secara rutin berpartisipasi dalam survei gaji yang dilakukan oleh perusahaan konsultan sumber daya manusia terkenal agar dapat mengetahui isu-isu pengupahan yang terjadi saat ini dan masa depan.

5.Rasionalitas wewenang dan tanggung jawab
Antara wewenang dan tanggung jawab harus terjadi keseimbangan, jangan sampai wewenang lebih besar atau sebaliknya.
APLN Juga menerapkan Sistem Pengelolaan Kinerja berbasis Balance Scorecard. Proses komunikasi yang terus-menerus dan berkelanjutan tentang tanggung jawab pekerjaan. Prioritas kerja, ekspektasi kinerja, dan perencanaan pengembangan untuk mengoptimalkan kinerja individu dan sejalan dengan tujuan strategis organisasi. Ukuran kinerja korporasi pertama diturunkan ketingkat unit usaha, di mana tujuan perusahaan dijabarkan kedalam tujuan tingkat unit bisnis, dan selanjutnya ke tingkat individual. Seiring dengan alat Balance Scorecard, APLN juga menggunakan alat evaluasi berbasis kompetensi untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan karyawan dengan lebih akurat.



6. Prosedur kerja yang praktis
Untuk menegaskan bahwa O&M merupakan kegiatan praktis, maka target efektif dan ekonomis, pelaksanaan kerja dapat dipertanggungjawabkan serta pelayanan kerja yang memuaskan haruslah merupakan kegiatan-kegiatan operasional yang dapat dilaksanakan dengan lancar dan tidak hanya berhenti sebagai konsep-konsep teoritis di atas kertas saja O&M menunjukan kegiatan ilmiah dan praktis yang urutan tahap demi tahap mencerminkan asal pekerjaan, kemana akan diteruskan dan kapan selesainya.



The Property Man of the Year 2006
PicturePenghargaan ini merupakan buah dari kontribusi besar terhadap pembangunan sektor properti di Indonesia yang telah membuat Agung Podomoro Group menerima reputasi sebagai pengembang properti terbesar dan terkemuka di Indonesia. Keberhasilan Agung Podomoro dalam menyelesaikan proyek perdana telah diakui melalui sejumlah penghargaan, seperti ISO 9001:2000 sertifikasi untuk Apartemen Eksekutif Menteng, Bukit Gading Mediterania, dan Gading Grande Residence. Pada tingkat individu, Mr Trihatma dianugerahi penghargaan The Property Man of 2006.

Kesimpulan :
Agung Podomoro Group merupakan perusahaan raksasa property yang menanamkan berbagai ide conceptual dalam penerapan management dan organisasinya. Pelopor perusahaan property yang semakin matang dalam menggerus segala jaman karena menguasai karakter intern perusahaan dan kebutuhan lingkungan. Perusahaan ini tak hanya fokus dalam pengembangan target pasar, tapi juga mementingkan kebutuhan organisasi di dalam perusahaan, sehingga bisa disebut salah satu perusahaan yang efisien.

Sumber :
Agung Podomoro Land : Profil Perusahaan  [http://agungpodomoroland.com/resources/areport/apln-2013-interactive/bab01.html#1f] 27 Januari 2016
Agung Podomoro Land : Pembahasan dan Analisis Management [http://agungpodomoroland.com/resources/areport/apln-2013-interactive/bab02.html] 27 Januari 2016
Agung Podomoro Land : Tata Kelola Perusahaan [http://www.agungpodomoroland.com/resources/areport/apln-2013-interactive/bab03.html#3a] 27 Januari 2016
Kompas : Rahasia di Balik Kesuksesan Agung Podomoro Menjual Properti [http://properti.kompas.com/read/2013/11/02/182907/Rahasia.di.Balik.Kesuksesan.Agung.Podomoro.Menjual.Properti] 28 Januari 2016
Agung Podomoro Group : Visi Misi Perusahaan [http://www.agungpodomoro.com/index.php] 28 Januari 2016
 

Monday, November 23, 2015

TOU2 : Mengenal Lebih Dekat Agung Podomoro Group, Tbk



logo
Borneo Bay, Kalimantan Timur
PT. Agung Podomoro Land (IDX: APLN) merupakan konsorsium dari tujuh pengembang properti terkemuka yang gemilang dibangun delapan proyek prestisius di Jakarta dan Bandung. PT Sunter Agung merupakan perusahaan pengembang real estate yang juga perusahaan induk dari Agung Podomoro Group, yang telah terjun dalam bisnis properti selama lebih dari 40 tahun. Baik perusahaan maupun semua anak perusahaan memiliki kepentingan besar dalam pengembangan real estate dan properti seperti hunian (perumahan, apartemen, townhouse), komersial (mall, ruko), perkantoran, dan pengembangan superblok inovatif multifungsi di daerah-daerah bisnis yang strategis. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1969.
Seiring dengan perkembangannya, Agung Podomoro Group telah mengambil alih beberapa pengembang properti di kawasan Sunter yang memiliki masalah keuangan. Secara kesuluruhan, Agung Podomoro Group telah mengembangkan lahan seluas lebih dari 500 hektar untuk hunian, pergudangan, dan kawasan industri.
Pada tahun 2012 grup ini mulai berkembang ke lokasi-lokasi lain di Jakarta, Bandung, Bogor, Kerawang, Balikpapan dan Bali.

Struktur dan Skema Organisasi

http://www.agungpodomoroland.com/resources/areport/apln-2013-interactive/images/apl2013/slide01-i.png
Struktur Organisasi Agung Podomoro Group
Dalam skema diatas, bisa kita lihat bahwa dewan komisaris berhubungan langsung dengan komite audit, serta audit internal dapat berhubungan dengan komite audit tanpa melewati direksi.
Sementara direksi memegang langsung pengembangan bisnis, pemasaran, keuangan, SDM, manajemen proyek, properti, dan hukum. Juga berhubungan dengan audit internal, komite Anggaran, ramunerasi, komite kerja, dan audit investigasi.

PENCAPAIAN

Central Park
Central Park
Agung Podomoro Group (APG) didirikan pada tahun 1969 oleh (alm.) Bapak Anton Haliman. Proyek pertamanya adalah kompleks perumahan d kawasan Simprug, Jakarta Selatan yang selesai dibangun pada tahun 1973. Pada tahun yang sama, APG menjadi pelopor konsep real estat dengan memulai proyek di kawasan Sunter, Jakarta Utara.
Mewujudkan visi, APG membangun kompleks perumahan dengan fasilitas lengkap untuk para penghuninya, seperti sekolah, pusat rekreasi, tempat ibadah, rumah sakit, dan pasar. Kemudian, grup mulai melebarkan usahanya dengan menggandeng beberapa perusahaan. Kini bisnis properti grup terdiri dari kompleks perumahan, pergudangan, dan industri. Pada tahun 1986, kepemimpinan perusahaan diserahkan kepada Trihatma Kusuma Haliman, yang segera mengambil alih PT. Indofica Housing yang memiliki lahan di kawasan Sunter. Perusahaan ini kemudian sukses menambahkan pengembangan seluas 17 hektar sebagai bagian dari pengembangan sebelumnya seluas 500 hektar, menjadikan Sunter sebagai salah satu kawasan eksklusif di Jakarta Utara. Proyek ini juga menjadi salah satu pencapaian yang luar biasa untuk pengembangan real estat di Jakarta.
Pada periode krisis keuangan yang melanda Indonesia di tahun 1997, ketika banyak usaha mengalami kesulitan, Agung Podomoro berhasil melaluinya berkat strategi yang diambil oleh manajemen atas grup ini, seperti keputusan krusial untuk membayar sebagian besar hutang APG pada awal 1997, mengesampingkan devaluasi mata uang, dan memperkenalkan kebijakan uang ketat. Pengalaman dari Bapak Trihatma saat mengatasi kesulitan dalam krisis Pertamina di tahun 1974 memberikan kepercayaan diri dan sikap yang tepat dalam grup untuk menghadapi situasi ini.
APG kemudian memandang krisis 1997 sebagai tantangan dan kesempatan yang sangat baik. Dengan kecermatan melihat perubahan pasar, APG menemukan potensi besar di pasar. Salah satunya adalah kebutuhan untuk tempat tinggal di tengah kota. Langkah pertama yang dilakukan adalah membeli lahan dari BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dan juga properti yang dimiliki pengembang-pengembang yang tekena dampak yang cukup berat dari krisis.
Sebenarnya, semenjak tahun 1995 APG telah menjalankan proyek-proyek yang dibangun dengan konsep yang mirip dan kesadaran akan keterbatasan lahan di kota. Pembangunan Menteng Executive Apartment memberikan pilihan bagi masyarakat untuk tinggal di kawasan kolektif yang berlokasi di daerah suburban kota dan menjadi sebuah terobosan dalam pengembangan real estat. Sukses dengan proyek di Menteng, pada tahun 2000 dan selanjutnya, APG mulai berfokus pada pembangunan apartemen. Hingga tahun 2012, Agung Podomoro Group telah menyelesaikan 16 apartemen, 15 kawasan hunian, dan 16 kawasan komersial mixed-use.
Sertifikat ISO 9001 untuk Menteng Executive Apartment dan Bukit Gading Mediterania di Kelapa Gading adalah sebuah pernyataan akan kapabilitas dan komitmen manajemen APG yang profesional terhadap para pemegang saham-nya.

Milestone Kawasan 4
Sesuai dengan visi misinya “Agung Podomoro Group, terus bertumbuh, menjadi pengembang terpadu dalam bisnis property, dan berkomitmen penuh untuk memberikan nilai yang optimal bagi pelanggan, rekan usaha, pemegang saham dan masyarakat.”
Agung Podomoro Group juga menanamkan beberapa point nilai, yaitu  :
1.    Harmoni, keharmonisan dalam bekerja dengan pelanggan, rekan usaha, pemegang saham dan masyarakat
2.    Tangguh, gigih memberikan usaha yang optimal.
3.    Mutu, menjaga mutu dalam setiap tahap pengembangan.
4.    Ramah Lingkungan, memperhatikan aspek lingkungan hidup dalam usaha pengembangan.

AKTIFITAS

Dalam 3 tahun terakhir, APG berfokus pada pengembangan dalam kota . Restrukturisasi rencana ini  akan menimbulkan sejumlah keuntungan yang bisa meningkatkan produktifitas dan efisiensi. Di kota-kota dunia, hunian mewah, seperti kondominium, apartemen, flat, dan hotel telah menjadi alternatif yang populer untuk menjaga agar masyarakat berada di kawasan yang dekat dengan daerah ekonomi dan bisnis, dengan demikian mengurangi kebutuhan untuk bepergian. Selain itu, hal ini akan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, pengembangan hunian vertikal memenuhi kebutuhan para komuter akan penghematan biaya dan waktu untuk perjalanan. Dengan memilih untuk tinggal di tipe hunian seperti ini, seseorang dapat memberikan lebih banyak waktu dan tenaganya untuk bekerja dibanding untuk di jalan.

Saat konsep hunian vertikal semakin diterima oleh masyarakat Jakarta, super dan megablok menjadi pilihan, dengan menghubungkan kawasan hunian dengan kawasan bisnis, pusat belanja, hiburan, dan rekreasi, sesuai dengan gaya hidup masa kini yang serba praktis dari masyarakat kelas menengah dan atas.
Pertumbuhan kota yang tak terkendali juga membawa masalah yang rumit di bidang perumahan. Dengan konsep “back to the city” semakin dikenal luas, fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan unit-unit apartemen menarik segmen lain dari masyarakat, yaitu masyarakat kelas menengah. Meningkatnya minat pasar berarti lebih banyak pembangunan unit apartemen yang harus diiringi sistem transportasi yang lebih baik dengan mobilitas lebih tinggi dan lebih terjangkau bagi masyarakat kelas menengah.
Menyadari kecenderungan gaya hidup masa kini dan sejalan dengan gerakan pemerintah untuk menyediakan tempat tinggal di lahan yang kian terbatas, APG secara aktif mempromosikan program “back to the city” dengan terus mengembangkan proyek-proyek hunian vertikal di kawasan tengah kota Jakarta. Dengan menciptakan rasa nyaman, aman, dan melengkapi hunian dengan fasilitas lingkungan, APG menyediakan pilihan bagi masyarakat untuk kehidupan yang penuh dan efektif.

Metro Park

DAFTAR PUSTAKA

www.agungpodomoro.com/index.php                            22/11/15 23:15