Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, January 23, 2015

Kampusku, Gunadarma

tempat berkumpul dan menimba ilmu
meski dengan letih dan tenaga tersisa
semangat tinggi terus terpancar ketika memasuki gerbang
tak arang seleksi alam terus berjalan
bagi siapa yang niatnya kokoh terkumpul maka dialah yang bertahan
demi sejumput ilmu yang ditularkan oleh dosen

Menuntut ilmu itu tidaklah mudah
butuh pengorbanan, butuh perjuangan
tak hanya sekedar niat , namun juga istiqomah
tugas dan ujian yang datang silih berganti
sering kali tak mampu berkompromi dengan tumpukan tanggung jawab karyawan
beradu domba menjadi yang terprioritaskan

penat dan stress sudah biasa
semakin mengeluh semakin berat beban yang dirasa
kehangatan dan kebersamaan kawan senasib yang mampu menghapus duka
beralih menjadi tawa riang bahagia

tetap teguh dalam jiwa ksatria
terus belajar dalam menuntut ilmu ilmiah
demi merajut asa masa depan yang cemerlang
bersama gunadarma, menuntut ilmu di pondok cina serasa sampai ke tembok cina

Monday, November 24, 2014

Efek BBM Atas Kakek Penjual Buah Pisang Gendongan


Tuannya berkipas2 dengan sulaman mata uang, 
Kakekku hanya mampu mengelap keringat dengan bekas rajutan pelepah pisah yang mengering.
Tuannya semudah menghentikkan jari mengubah ekor2 bandrol harga mesin pengucur BBM
Kakekku kelu demi sekedar mengiyakan permintaan pembeli yang tak kepalang menawar sebiiji pisang
Tuannya tertawa terbahak bahak melihat digit deposit bertambah tiap harinya
kakekku hanya mampu bersyukur membawa beberapa lembar ribuan asal berat pisang dalam gendongannya berkurang setiap ia pulang
Tuannya  sibuk menunjuk ferrari warna apa yang ia pakai untuk melancong pagi ini
kakekku hanya mampu bertumpuh pada kaki rentanya menggendong beberapa sisir pisang sisa kemarin berangkat saat langit masih gelap
Tuannya bingung bagaimana menghilangkan lemak yang bertumpuk pada perutnya 
kakekku masih tetap kurus dengan perut rata dan tulang yang terbungkus kulit kusam 

Apakah ini yang namanya kehidupan, disaat perbedaan menjadi setajam mata pisau
segelintir penguasa mempermainkan harga dengan seenaknya, kami seluruh rakyat hanya mampu tertunduk patuh 
apakah Tuan tak berfikir, Tuan ada karena kami yang menunjuknya
amanah dan janji janji yang pernah Tuan lontarkan, tidak kah Tuan mengingatnya ha?
Tidak kah Tuan takut akan adzab Tuhan bagi pemimpin yang tidak amanah

Wahai tuanku, sadarlah sadarlah
tak hanya kakekku yang menanggung pedih dari segala kepahitan naiknya harga BBM
Ibu penjual nasi uduk, abang sopir angkot, mbak mbak penjual sayur, dan puluhan juta rakyat Tuan menjerit dalam hati
Memang dalam hidup ada pilihan yang harus dipilah, baik itu getir haruslah tetap ditelan 
Semoga dengan getirnya pilihan Tuan ini mampu memberikan manfaat bagi negeri ini kelak
Bagi Tuan - Tuanku yang masih belum memegang amanah
kami, hanya mampu berdoa semoga Tuan segera bertaubat, dan negeri ini segera aman, damai dan sejahtera